uploading... 0%
  • Tembakau Srinthil Temanggung
  • JAWA TENGAH
  • 13 Mei 2014
  • ID G 000000027

Karakteristik

Secara fisik tembakau Srinthil Temanggung berwarna coklat kehitaman sampai hitam menggumpal. Ini memiliki aroma segar dan harum yang khas. Kadar nikotinnya berkisar antara 5,05% dan 7,58%.

Lingkungan

Tembakau srinthil hanya tumbuh di wilayah Kabupaten Bulu, Tembarak dan Tlogomulyo pada ketinggian lebih dari 800 m dpl di lereng Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Daerah ini memiliki curah hujan rata-rata 20,7 hingga 27,7 mm. mm per hari. Topografi bervariasi dari bergelombang dan berbukit, hingga curam dan sangat curam. Daerah ini memiliki banyak aktivitas vulkanik dengan tanah muda dengan kesuburan sedang sampai tinggi, ordo inceptisol. Tanahnya bisa berpasir, lempung berpasir, lempung liat, lempung berdebu, dan lempung dengan pH berkisar antara 4,5 hingga 6,5. Di komunitas lokal, keterampilan menanam tembakau diturunkan dari generasi ke generasi.”

Batas Wilayah

Tembakau Srinthil Temanggung tumbuh di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro, pada ketinggian lebih dari 800 m di atas permukaan laut. Sebagian besar perkebunan berada di Tlilir (Kabupaten Tlogomulyo), Pagergunung (Kabupaten Bulu) dan Kemloko (Kabupaten Tembarak). Di Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah.

Sejarah

Tembakau Srinthil merupakan produk spesifik dan merupakan bagian dari produk tembakau rajangan di Kabupaten Temanggung. Oleh karena itu sejarah tentang Srinthil tidak dapat terlepas dari sejarah tembakau Temanggung secara keseluruhan. Tembakau Temanggung Dokumentasi dan sejarah tentang tembakau Temanggung secara tertulis sulit ditemukan. Sejarah dan asal usul tembakau Temanggung dapat ditelusuri berdasarkan legenda yang ada di masyarakat Kabupaten Temanggung, khususnya yang ada di wilayah pertanaman tembakau. Secara ilmiah asal usul tembakau Temanggung dapat ditelusuri dari masuknya tembakau ke Indonesia yang kemudian menyebar ke berbagai daerah. Pada bagian ini diuraikan tentang sejarah tembakau Temanggung dan tembakau Srinthil. Legenda Tembakau TemanggungTembakau Temanggung memiliki legenda yang bertahan dan berkembang di masyarakat Temanggung sampai saat ini. Selain itu tembakau Temanggung juga dapat ditelusuri dari beberapa sumber tentang tembakau secara umum dan sumber lain yang memiliki kaitan dengan tembakau Temanggung. Sejarah tembakau Temanggung varietas Kemloko digali dari Bapak Subakir, Kepala Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung. Sumber lain yang diacu adalah tulisan Nizar Anwar tanggal 14 Juli 2012 (http://marnendra.blogspot.com/2012/07/legenda-tembakau-Srinthil.html). Kata tambaku kemudian dijadikan nama tanaman yang ditanam oleh Ki Ageng Makukuhan. Kata “iki” dihilangkan sehingga tinggal kata “tambaku” yang kemudian berubah menjadi “tembako”, sering disingkat menjadi “mbako”. Biji tanaman tembako pertama ditanam di Desa Kemloko, sehingga nama tembakau tersebut terkenal menjadi varietas tembakau Kemloko. Bila diperhatikan, tembakau yang ditanam di tanah kering (tegal) bila dirajang hasilnya berbeda dengan tembakau yang ditanam di sawah. Selain itu tembakau tegal yang kejatuhan ndaru rigen bila dirajang akan menggumpal berwarna coklat kehitaman sampai hitam, warga menyebutnya sebagai tembakau Srinthil, karena saat dirajang menghasilkan gumpalan-gumpalan. Tembakau Srinthil memiliki kualitas dan rasa istimewa sehingga harganya juga istimewa. Namun demikian, ndaru rigen tidak setiap tahun datang, selain itu tidak semua lokasi dapat kejatuhan ndaru rigen, bahkan tidak setiap tahun ndaru rigen jatuh di tempat yang sama. Oleh karena itu tidak semua tembakau menjadi Srinthil.  Sampai saat ini masyarakat sangat menghormati Ki Ageng Makukuhan. Penghormatan tersebut ditunjukkan antara lain pada setiap musim tembakau, sebelum musim tanam banyak petani tembakau yang berziarah ke makam Ki Ageng Makukuhan di Kedu. Selain itu menurut Badil (2011), setiap tahun sebelum tanam dan sebelum panen petani tetap melakukan upacara seperti disebutkan di atas sebagai rasa syukur atau memanjatkan doa terkait dengan tembakau. Tembakau Srinthil. Tembakau Temanggung diolah menjadi tembakau rajangan. Mutu yang diperoleh dipengaruhi oleh posisi daun pada batang, semakin tinggi posisi daunnya, semakin tinggi juga mutunya. Makin tinggi posisi daunnya, makin tinggi juga kadar nikotinnya. Selain posisi daun, ketinggian tempat penanaman juga sangat besar pengaruhnya terhadap mutu yang dihasilkan. Tembakau Temanggung ditanam di lahan dengan ketinggian antara 600 m dpl hingga 1.600 m dpl. Perbedaan ketinggian tempat berpengaruh besar terhadap umur tanaman tembakau. Semakin tinggi tempatnya, umur tanaman menjadi semakin panjang. Semakin panjang umur tanaman tembakau, maka waktu untuk mengakumulasi nikotin dalam daun juga menjadi semakin panjang. Keadaan tersebut mempengaruhi kadar nikotin dalam daun tembakau. Tembakau yang disebut dengan Srinthil hanya dapat terjadi di daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Akan tetapi tidak semua tempat dapat menghasilkan Srinthil. Berdasarkan penuturan petani, khususnya penghasil Srinthil, mutu istimewa tersebut hanya dapat terjadi bila cuaca selama musim tanam tembakau sangat kering. Pada kondisi demikian daun yang berpotensi menjadi mutu Srinthil, dapat diketahui setelah diperam 5 hari. Ciri-ciri daun tersebut adalah berubah warna menjadi coklat kehitaman, tumbuhnya puthur (semacam hifa jamur berwarna kuning, Gambar 3) dan mengeluarkan cairan serta aroma seperti alkohol. Daun tembakau yang diperam tersebut tidak busuk, bila dirajang tidak menghasilkan struktur seperti serat, tetapi menjadi hancur menggumpal, bila telah kering berwarna coklat kehitaman sampai hitam cerah dan mengkilat. Beberapa peneliti pasca panen mengamati pada tembakau yang sedang diperam tersebut tumbuh beberapa macam mikroorganisme semacam jamur yang berwarna kuning yang oleh petani disebat sebagai puthur kuning. Usaha untuk membuat mutu Srinthil dengan memanfaatkan mikroorganisme tersebut (setelah diisolasi, inokulasi dan disemprotkan) tidak berhasil, karena mikroorganisme tersebut tidak berkembang. Berdasarkan informasi dari para penghasil Srinthil, varietas yang dapat menjadi Srinthil adalah Kemloko, Kemloko 1 dan Kemloko 2. Sedangkan daerah-daerah yang biasa menghasilkan Srinthil adalah Desa Legoksari, Losari, Pagergunung, Pagersari, Tlilir, Wonosari, Bansari, Wonotirto, Banaran, Gandu, Gedegan dan Kemloko.

Proses Produksi

Bibit yang digunakan, kemloko 1, 2 dan 3, adalah varietas lokal. Panen berlangsung antara Mei dan Oktober, ketika cuaca relatif kering dengan sedikit hujan. Tanaman tembakau ditanam pada ketinggian lebih dari 800 m. Pemetikan dilakukan antara pukul 9.00 dan 11.00 atau antara pukul 16.00 hingga 18.00. Jika setelah didiamkan selama lima hari untuk menyembuhkan tembakau, muncul jamur kuning (puthur kuning), daunnya akan digunakan untuk membuat tembakau Srinthil. Tanda-tanda lainnya adalah melunaknya jaringan daun, aroma harum atau urat daun pecah-pecah. Jika tanda-tanda ini muncul, maka daun akan dibiarkan matang selama tujuh hari lagi, kemudian dicincang, dikeringkan, digulung dan dikemas. Jika setelah lima hari tidak ada puthur kuning, maka daunnya diolah menjadi tembakau iris Temanggung bukan tembakau Srinthil.

Data tidak ditemukan.

Kembali